Syarat Sahnya Shalat (Bagian 2)

solat2

“Kunci shalat itu bersuci. Yang mengharamkan adalah takbir dan yang menghalalkannya adalah salam.”

 

V. Syarat kelima adalah menghilangkan najis dari tiga tempat, yaitu: badan, pakaian, dan tempat shalat.

Mengenai penghilangan najis dari badan, banyak hadits-hadits tentang

  • istinja’ (bersuci dengan air),
  • istijmar (bersuci dengan benda-benda padat seperti batu dan lain sebagainya),
  • dan mencuci air madzi yang menunjukkan keharusan bersuci dari najis, karena istinja’, istijmar dan mencuci air madzi dari badan merupakan upaya penyucian badan yang terkena najis.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah hadits Anas رضي الله عنه, dia berkata:

“Rasulullah ﷺ pernah masuk tempat buang air (WC) lalu aku pun dan anak sebaya denganku membawa untuknya sember air dan sebuah tongkat kecil, selanjutnya beliau bersuci dengan air.”

Juga hadits Miqdad dalam kisah ‘Ali رضي الله عنه yang menceritakan tentang madzi, di dalamnya disebutkan:

((فَلْيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَأُنْثَيَيْهِ.))

“Maka hendaklah dia mencuci kemaluan dan kedua biji kemaluannya.”

Demikian juga hadits Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, dia berkata: “Nabi ﷺ pernah berjalan melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

(( إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ))

‘Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini tengah disiksa. Mereka tidak disiksa karena dosa besar. Salah seorang di antara mereka karena tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan yang satu lagi karena suka mengadu domba.’”

Sedangkan menghilangkan najis dari pakaian, berdasarkan pada hadits Asma’, dia berkata:

“Ada seorang wanita mendatangi Nabi ﷺ seraya bertanya: ‘Menurut pendapatmu, bagaimana jika salah seorang di antara kami haidh dan darahnya mengenai pakaian, apa yang harus dilakukannya?’ Beliau menjawab: ‘Hendaklah dia mengeroknya kemudian memercikinya dengan air dan menyiramnya untuk selanjutnya shalat dengan mengenakan pakaian tersebut.”

Dan berdasarkan pada hadits-hadits tentang mencuci air kencing bayi perempuan dan memerciki air kecing bayi laki-laki yang belum makan (makan selain susu ibu).
Dari ‘Ali yang diriwayatkan secara marfu’:

(( بَوْلُ الْغُلَامِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ *.))

“Kencing bayi laki-laki itu diperciki dengan air sedangkan kecing bayi perempuan itu dicuci.”

Yang demikian itu selama keduanya belum memakan makanan kecuali ASI. Jika dia sudah mengkonsumsi makanan maka kedua-duanya harus dicuci.”

Adapun mengenai penghilangan najis dari tempat shalat, terdapat hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, dia bercerita:

“Ada seorang badui berdiri lalu kencing di masjid, maka para Sahabat pun menyerangnya, sehingga Nabi ﷺ  bersabda kepada mereka:

(( دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ *.))

‘Biarkan saja dia. Siramlah air kencingnya itu dengan satu ember air atau satu gayung air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.’”

 

VI. Syarat Keenam Menutup Aurat

Defenisi Aurat

Secara bahasa Tagthiyah artinya tertutup,atau dari Awar yang artinya aib.

Secara syar`i sesuatu aib yang mana orang akan malu untuk memperlihatkannya atau melihatnya.

Para ulama sepakat bahwa batal shalat orang ketika dia shalat dalam kondisi telanjang padahal dia mampu untuk menutupi auratnya. Batas aurat laki-laki itu dari pusar sampai lutut . Sedangkan aurat wanita, seluruh anggota tubuh wanita itu aurat kecuali wajahnya saja dalam shalat.

Ini berdasarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-A’raaf: 31)

Juga berdasarkan pada hadits ‘Aisyah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ , di mana beliau bersabda:

((لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ.))

“Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah haidh kecuali dengan penutup kepala.”
Dari Salamah bin al-Akwa’, dia bercerita: “Aku pernah bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang laki-laki yang suka berburu, apakah aku boleh shalat dengan sehelai pakaian saja?’ Beliau menjawab:
((نَعَمْ وَازْرُرْهُ وَلَوْ بِشَوْكَةٍ.))

‘Ya, boleh. Dan ikatlah bajumu itu, meski hanya dengan duri.’”

 

VII. Syarat ketujuh adalah masuknya waktu.

Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

(QS. An-Nisaa’: 103).

Maksudnya, wajib dalam waktu-waktu tertentu.
Dan berdasarkan pada firman Allah :

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat).”
(QS. Al-Israa’: 78)

 

VIII. Syarat kedelapan: Menghadap kiblat.

Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 144)

Menghadap ke arah Baitul Haram merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Hal itu didasarkan pada sabda Nabi ﷺ  kepada orang yang kurang baik dalam mengerjakan shalatnya:

(( إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ *.))

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat untuk selanjutnya bertakbirlah.”

Juga didasarkan pada hadits Ibnu ‘Umar رضي الله عنه , tentang penduduk Quba’ pada saat memindahkan arah kiblat mereka, dia bercerita: “Ketika orang-orang di Quba’ tengah shalat Shubuh, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka seraya berkata: ‘Sesungguhnya telah turun tadi malam ayat al-Qur-an kepada Rasulullah, di mana beliau diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka’bah.’ Maka mereka pun segera menghadap ke arah Ka’bah, yang sebelumnya wajah mereka mengarah ke Syam (Palestina/Baitul Maqdis), lalu mereka membalikkan wajah mereka ke Ka’bah.”

Serta didasarkan pada hadits al-Barra’ bin ‘Azib رضي الله عنه, dia bercerita: “Kami pernah mengerjakan shalat bersama Nabi ﷺ  menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan (atau tujuh belas bulan). Kemudian kami menghadapkan wajah kami ke Ka’bah.”

Berlanjut ke Bagian 3. Insyaa Allah.


GRUP BAABUSSALAAM

✒ Ustadz Azhar Khalid Seff, MA

 

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *