Enam Jenis Penetapan Orang Kafir

Kumpulan persoalan-persoalan yang telah ditetapkan oleh salaf dalam perkara ini (macam orang kafir) adalah;

Pertama
Orang-orang kafir asli seperti Yahudi, Kristen dari orang-orang yang agama mereka telah dihapus dengan diutusnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kedua
Pelaku kesyirikan, para penyembah berhala dari para penyembah patung dan kuburan-kuburan seperti penganut agama Budha,Hindu, Shikh dan penyembah sapi-sapi dan selain mereka dari orang-orang yang minta keselamatan kepada selain Allah, dari orang-orang yang tidak mengakui tauhid dan tidak bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah.

Hukum atas mereka adalah dikafirkan mutlak dan mu’ayyan. Barangsiapa abstain dalam hal ini atau ragu akan kekafiran mereka atau tidak mengkafirkan mereka maka dia kafir. Karena dia telah mendustakan nas-nas Al Kitab dan As-Sunnah yang menerangkan kekafiran mereka dan menegaskan akan hal ini secara nas yang terang dan jelas dan tidak memberi ruang kepada takwil.

Ketiga
Orang-orang musyrik dari mereka yang mengaku beragama Islam dan bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah, mengerjakan shalat, puasa, haji dan menunaikan syi’ar-syi’ar keislaman.

Keempat
Orang yang melakukan salah satu pembatal dari pembatal-pembatal keislaman, dari persoalan yang ma’lum minad-diin bid-dharurah (dikenal populer dalam agama) seperti mencaci Allah, mengolok-olok syariat-Nya dan meyakini bolehnya beragama dengan selain Islam, membela orang kafir dalam memerangi muslimin, mengaku mengetahui ilmu gaib, mendustakan Al Qur’an dan As-Sunnah, atau membantah keduanya, atau menolaknya, dan ridha terhadap hukum thaghut, atau ingin mencari keadilan kepadanya, atau membolehkan berhukum dengannya, atau melebihkannya dari hukum Allah dan rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seterusnya dari hal-hal yang terhitung ke dalam persoalan-persoalan yang lahir yang populer dikenal bagian dari agama Islam secara darurat.

Hukum atas mereka adalah dikafirkan secara mutlak dan mu’ayyan apakah dia alim atau jahil. Dan barangsiapa abstain dalam hal ini atau ragu akan kekafiran mereka atau tidak mengkafirkan mereka maka dia kafir. Karena dia telah mendustakan nas-nas Al Kitab dan As-Sunnah dan ijma’ ulama, selagi orang yang melakukan pembatal-pembatal ini bukan orang yang baru masuk Islam, atau tumbuh di pedalaman dari orang-orang yang bisa dibenarkan darinya kejahilan bukan karena lalai dari mencari tahu. Maka orang ini diberitahu dan diterangkan kepadanya bukti dan ditegakkan kepadanya hujjah, apabila dia berpaling dari hujjah-hujjah syar’i dia dihukumi kafir dan murtad lahir dan batin, karena telah tegaknya hujjah risaliyah atasnya. Adapun orang yang belum sampai kepadanya hujjah risaliyah, sesungguhnya sikap abstain adalah berkenaan dengan menilainya kafir secara batin. Keadaannya seperti keadaan ahli fatrah. Adapun secara lahir maka tidak seorang pun ahli ilmu yang mengambil sikap abstain dalam menghukuminya dengan yang sesuai perbuatannya, kekufuran, dan kesyirikan. Dan ini telah baku dan terurai secara mutawatir dari ucapan ahli ilmu dan disepakati, kamu bisa dapati sebagian darinya pada risalah ini.

Kelima
Orang yang melakukan pembatal dari pembatal-pembatal keislaman yang termasuk ke dalam perkara ma’lum minad-diin bid-dharurah dari persoalan-persoalan yang terhitung ke dalam perkara-perkara yang terang dan dikenal dari agama Islam secara darurat dikarenakan dipaksa, atau lupa, atau keliru (tidak sengaja). Maka orang ini diberi udzur selagi hatinya tetap tenang dengan keimanan seperti yang Allah Ta’aala firmankan, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs. An-Nahl: 106)

Keenam
Orang yang melakukan kekufuran dari persoalan-persoalan yang samar yang butuh kepada penjelasan, pada kasus ini pelakunya tidak dihukumi kafir sekalipun perbuatannya dinilai kufur sampai ditegakkan atasnya hujjah dengan keterangan dan enjelasan. Maka apaila dia bertahan setelah mengetahui dia dihukumi kafir dan murtad secara personal.

Inilah yang telah diakui salafus shalih dan orang-orang yang berjalan diatas jalan mereka dari orang-orang shalih di kalangan khalaf dan mereka sepakat diatas hal ini.

Al Furuq halaman 125-126

Ustadz Dedi Fadilah Zubair

Posted by Redaksi Attauhid

catatanfaidah.com adalah media informasi dan dakwah Islam dalam rangka menyebarkan agama islam sehingga lebih banyak manusia yang bisa merasakan manisnya iman diatas islam. ------------------------------------------- WAG Catatan Faidah (Ikhwan) Admin : 0813 1116 6619 WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) Admin : 0851 0062 3794 http://www.catatanfaidah.com

Website: http://catatanfaidah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *